Selasa, 23 Maret 2010

Mendapat Hikmah Allah bila di Uji

Hikmah adalah sesuatu yang tersirat di sebalik yang tersurat. Hikmah dikurniakan sebagai hadiah paling besar dengan satu ujian. Hikmah hanya dapat ditempa oleh "mehnah" - didikan langsung daripada Allah melalui ujian-ujian-Nya. Rasulullah S.A.W. bersabda, "perumpamaan orang yang beriman apabila ditimpa ujian, bagai besi yang dimasukkan ke dalam api, lalu hilanglah karatnya dan tinggallah yang baik sahaja!"

Jika tidak diuji, bagaimana hamba yang taat itu hendak mendapat pahala sabar, syukur, redha, pemaaf, qanaah daripada Tuhan? Maka dengan ujian bentuk inilah ada di kalangan para rasul ditingkatkan kepada darjat Ulul Azmi - yakni mereka yang paling gigih, sabar dan berani menanggung ujian. Ringkasnya, hikmah adalah kurnia termahal di sebalik ujian buat golongan para nabi, siddiqin, syuhada dan solihin ialah mereka yang sentiasa diuji.

Firman Allah: Apakah kamu mengira akan masuk ke dalam syurga sedangkan kepada kamu belum datang penderitaan sebagaimana yang dideritai orang-orang terdahulu daripada kamu, iaitu mereka ditimpa kesengsaraan, kemelaratan dan kegoncangan, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya merintih: "Bilakah datangnya pertolongan Allah? (Surah al-Baqarah: 214)

Pendek kata, bagi orang beriman, ujian bukanlah sesuatu yang negatif kerana Allah sentiasa mempunyai maksud-maksud yang baik di sebaliknya. Malah dalam keadaan berdosa sekalipun, ujian didatangkan-Nya sebagai satu pengampunan. Manakala dalam keadaan taat, ujian didatangkan untuk meningkatkan darjat.

Justeru, telah sering para muqarrabin (orang yang hampir dengan Allah) tentang hikmah ujian dengan berkata: "Allah melapangkan bagi mu supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan dan Allah menyempitkan bagi mu supaya engkau tidak hanyut dalam kelapangan, dan Allah melepaskan engkau dari keduanya, supaya engkau tidak bergantung kepada sesuatu selain Allah...

Marilah kita sama-sama bantu diri kita membersihkan hati dari segala kekotoran dengan memperbanyakkan zikrullah. Itu lah satu-satunya jalan untuk mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat nanti. Manusia perlukan zikir umpama ikan perlukan air. Tanpa zikir, hati akan mati. Tidak salah memburu kekayaan, ilmu, nama yang baik, pangkat yang tinggi tetapi zikrullah menjadi teras dan asasnya. InsyaAllah, dengan zikrullah, hati akan menjadi lapang. Inilah bukti keadilan Allah meletakkan kebahagiaan kepada zikrullah - sesuatu yang dapat dicapai oleh semua manusia tanpa mengira pangkat dan darjat, kaya dan miskin, jelita dan hodoh. Dengan itu, semua orang layak untuk bahagia asalkan tahu erti dan melalui jalan yang sebenar dalam mencarinya. Rupa-rupanya, yang dicari itu terlalu dekat, hanya berada dalam hati sendiri sahaja.

Selengkapnya...

Jumat, 19 Maret 2010

Mencintai Orang Tua Karena Allah SWT

segala cinta kepada siapapun harus berada di bawah cinta kepada Allah. Allah berfirman;

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (al-baqarah:165)

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: “jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (at-Taubah:24)

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa cinta tertinggi adalah kecintaan kepada Allah. Pada ayat kedua dijelakan bahwa setelah cinta kepada Allah, adalah cinta kepada Rasul. Cinta kepada segala sesuatu harus berada dalam bingkai cinta karena Allah, sebagaimana sabda Rasulullah

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ

Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, menahan (tidak memberi) karena Allah, maka ia telah menyempurnakan iman (HR Abu Dawud, dengan sanad shahih)

Hal seperti ini berlaku juga untuk cinta kepada orang tua. Kecintaan kepada orang tua juga harus dilandasi cinta kepada Allah. Makna cinta orang tua karena Allah, adalah mencintai orang tua dan menunaikan hak-haknya sesuai dangan tuntunan Islam, baik yang termaktub di dalam firman Allah maupun hadis Rasulullah saw.

Mencitai orang tua diwujudkan dalam bentuk menerima nasihatnya dengan ikhlas, mendahulukan kepentingan orang tua daripada kepentingan diri sendiri, memberikan pelayanan yang baik kepada orang tua.

Di antara firman Allah yang menyebutkan kewajiban manusia kepada orang tuanya, adalah;

وَقَضى رَبُّكَ أَلّا تَعبُدُوا إِلّا إِيّاهُ وَبِالوَلِدَينِ إِحساناً إِمّا يَبلُغَنَّ عِندَكَ الكِبَرَ أَحَدُهُما أَو كِلاهُما فَلا تَقُل لَهُما أُفٍّ وَلا تَنهَرهُما وَقُل لَهُما قَولاً كَريماً وَاِخفِض لَهُما جَناحَ الذُلِّ مِنَ الرَحمَةِ وَقُل رَبِّ اِرحَمهُما كَما رَبَّياني صَغيراً

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al-Isra’: 23-24 )

Perintah Allah di sini adalah berbuat ihsan, selanjutnya di dalam ayat ini diperinci beberapa sikap ihsan, antara lain; tidak berkata kasar kepada orang tua, bersikap kasih sayang dan sopan santun kepada orang tua, serta mendo’akan kedua orang tua jika mereka muslim.

Selain itu, cinta kepada orang tua diwujudkan dalam bentuk mentaati keduanya dalam hal-hal yang tidak maksiat kepada Allah. Jika keduanya memerintahkan maksiat, maka kewajiban kita menghindari kemaksiatan yang diperintahkannya dan tetap berbuat baik dalam hal-hal yang tidak dilarang oleh Allah, sebagaimana firman Allah;

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik (Luqman;15)

Demikian juga jika mereka memusuhi Islam, kita tidak boleh mencintai mereka, sebagaimana firman Allah;

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan (al-Mujadalah:22)

Dalam keadaan terjadi permusuhan dan peperangan antara Islam melawan orang kafir, dan orang tua berada di pihak orang kafir, maka tidak dibenarkan untuk membela kaum kafir karena orang tua kita ada di sana. Ada beberapa pelajaran menarik dapat kita baca berkenaan dengan praktik ayat di atas. Pertama tindakan Hatib bin Abi Balta’ah. Ketika Rasulullah hendak menyerang Makkah, karena Hatib memiliki orang tua di Makkah maka ia mengirim surat kepada mereka agar menyelamatkan diri karena Rasulullah sudah bersiap-siap untuk menyerang Makkah. Karena tindakan Hatib sangat berbahaya bagi rencana yang telah disusun Rasulullah, maka beliau pun melarangnya.

Berbeda dengan hatib bin Abi Balta’ah, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, ketika perang Uhud bahkan harus berhadapan dengan orang tuanya sendiri. Meskipun demikian dia pun harus rela membunuhnya karena orang tuanya membela kemusyrikan sedangkan dia berada di barisan pembela Islam.
Selengkapnya...

Senin, 15 Maret 2010

Aku Mencintai Kalian Karena Allah SWT

ketika kubaca firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara” aku tahu, ukhuwah tak perlu diperjuangkan tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman aku ingat pertemuan pertama kita, akhi sayang dalam dua detik, dua detik saja aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra dengan iman yang menyala, mereka telah mufakat meski lisan belum saling sebut nama, dan tangan belum berjabat

ya, kubaca lagi firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara” aku makin tahu, persaudaraan tak perlu diperjuangkan karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan saat pemberian bagai bara api, dan saat kebaikan justru melukai aku tahu, yang rombeng bukanlah ukhuwah kita hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau menjerit mungkin dua-duanya, mungkin kau saja tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping kubaca firman persaudaraan itu, akhi sayang dan aku makin tahu,mengapa di kala lain diancamkan;

“para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain..

kecuali orang-orang yang bertaqwa”

-Salim A. Fillah-

Selengkapnya...

Template by:
Free Blog Templates